You are currently viewing Asal Usul Drone: Dari Penemuan Hingga Komersial

Asal Usul Drone: Dari Penemuan Hingga Komersial

Saat ini, istilah drone cukup populer di kalangan masyarakat mengingat maraknya penggunaan drone, baik dalam fotografi udara, pemetaan, hingga kepentingan militer. Namun, banyak yang belum tahu, bahwa sebenarnya, teknologi drone sudah ditemukan pada awal abad 20, dan hampir diterapkan pada perang dunia 1.

Penemuan Awal

Konsep penerbangan udara tak berawak pernah diterapkan pada 22 Agustus 1849, yaitu ketika militer Austria menyerang kota Venesia dengan mengirim balon tak berawak yang sarat dengan bahan peledak. Beberapa balon diluncurkan dari kapal Austria Vulcano. Sementara beberapa balon mencapai sasarannya mereka, sebagian besar terperangkap dalam angina dan berubah arah.

Drone yang berwujud pesawat baru diciptakan pada tahun 1910an dan hampir diterapkan saat perang dunia 1. Pada tahun 1916, Kerajaan Inggris Raya mengembangkan pesawat bersayap tanpa pilot pertama, yaitu Ruston Proctor Aerial Target. dengan kontrol sinyal radio seperti drone saat ini, meskipun teknologinya jauh lebih sederhana. Benda ini berupa bom terbang yang diharapkan digunakan Inggris untuk melawan Zeppelin Jerman. Setelah beberapa prototipe gagal diluncurkan, militer Inggris memilih untuk membatalkan proyek, dengan anggapan bahwa kendaraan udara tak berawak memiliki potensi militer yang terbatas.

Betapa salahnya mereka. Pasalnya, setahun kemudian, Amerika menciptakan alternatif pesawat tanpa awak, yaitu Hewitt-Sperry. Setelah keberhasilan demonstrasi ini, Angkatan Darat menugaskan sebuah proyek untuk membangun sebuah torpedo udara, yang kemudian dikenal sebagai Bug Kettering dan terbang tahun 1918. Meski sudah siap, teknologi ini baru selesai dikembangkan ketika perang dunia 1 hampir berakhir sehingga terlambat untuk digunakan dalam perang dan tidak pernah digunakan lagi.

Adapun istilah drone berasal dari pesawat nama pesawat tanpa awak buatan Angkatan Laut Kerajaan Inggris pada tahun 1935, yaitu “DH.82B Queen Bee” (ratu lebah). Kemudian angkatan laut menjuluki pesawat tanpa awak itu dengan istilah “drone” , yang berarti lebah jantan, dan istilah itu terkenal sampai sekarang.

Penggunaan Dalam Bidang Militer

Teknologi UAV meningkat sepanjang Perang Dunia II dan Perang Dingin. Selama Perang Dingin, demi mencegah kehilangan pilot di atas wilayah musuh, AS dan Uni Soviet menggunakan drone tak berawak untuk memata-matai satu sama lain. Saat era Perang Vietnam, China menunjukkan foto-foto pesawat tanpa awak AS yang jatuh, namun respon Angkatan Udara AS hanyalah “no comment.” Pada 1973, militer AS akhirnya secara resmi mengkonfirmasi bahwa mereka telah memanfaatkan teknologi UAV di Vietnam, dengan rincian lebih dari 3.435 buah UAV diterbangkan, dan sekitar 554 buah hilang dalam pertempuran.

Perang drone modern dimulai dengan sungguh-sungguh pada tahun 1982, ketika Israel mengoordinasi penggunaan drone untuk menghapus armada Suriah. Secara spesifiknya, drone ini berfungsi untuk merekonstruksi posisi musuh, menghentikan komunikasi, dan bertindak sebagai umpan demi mencegah hilangnya nyawa pilot ketika penyerangan.

Perkembangan teknologi UAV tumbuh pesat selama tahun 1980 dan 1990 – yang digunakan selama Perang Teluk Persia pada 1991 – dan menjadi mesin pertempuran yang lebih murah. Sementara sebagian besar drone pada saat itu masih pesawat pengintai, beberapa telah berevolusi dengan mampu membawa amunisi, semisal General Atomics MQ-1.

Pasca tragedi 11 September 2001. CIA mengoperasikan drone di atas Afghanistan, Pakistan, Yaman, dan Somalia. Program UAV pertama CIA disebut Eagle Program. Pada 2008, USAF telah mempekerjakan 5.331 UAV, yang berarti dua kali jumlah pesawat berawak. Dari jumlah tersebut, Predator telah menjadi yang paling dipuji. karena memiliki kemampuan akurasi yang mumpuni. Keberhasilan keseluruhan dari misi Predator jelas karena dari Juni 2005 sampai Juni 2006 saja, Predator melakukan 2,073 misi sukses dalam 242 serangan terpisah. Pesawat ini dapat dioperasikan dari jarak jauh melalui satelit dari lebih dari 7.500 mil jauhnya,
Selain militer negeri, militer Indonesia juga sudah menerapkan drone untuk menjaga wilayah perbatasan. Menurut Haryo Ajie Nogoseno, Pengamat Persenjatan Militer Indonesia mengatakan TNI mempunya 2 jenis UAV/PUNA yaitu Wulung dan Heron yang merupakan hasil produksi Indonesia. Wulung difungsikan untuk menjaga perbatasan wilayah tetapi masih sebatas sebagai pengawas. Sedangkan Heron yang teknologinya lebih canggih, akan difungsikan sebagai pengintai.

Penggunaan Drone Secara Komersial

Ketika teknologi drone meningkat di sektor militer, peningkatan teknologi yang sama juga digunakan di sektor swasta. Tahun 2006 merupakan momen penting dalam sejarah penggunaan pesawat tanpa awak di bidang sipil. Beberapa lembaga federal di Amerika memprakarsai sistem drone untuk pengiriman bantuan dalam penanggulangan bencana, memperkuat wilayah perbatasan, dan memerangi kebakaran hutan. Perusahaan swasta juga mulai menggunakan drone dalam inspeksi pipa dan penyemprotan pestisida pada tanaman.

Meningkatnya kebutuhan penggunaan drone membuat perlunya pembuatan regulasi terkait hal tersebut. Beroperasinya drone komersil menimbulkan potensi gangguan di wilayah udara penerbangan pesawat, keamanan, dan risiko operasi di dekat atau di atas populasi sipil. Oleh karena itu, pada tahun 2006, Federal Aviation Administration (FAA), lembaga regulator penerbangan di Amerika Serikat menyusun aturan dan sistem yang dapat membuat drone aman untuk penggunaan komersial. Sementara itu, di Indonesia sendiri, regulasi drone diatur oleh Undang-undang No.90/2015 tentang pengendalian pengoperasian pesawat tanpa awak di ruang udara yang dilayani Indonesia

Pada tahun 2013, Amazon mengumumkan rencana untuk mengembangkan sistem pengiriman barang berbasis drone. Rencana tersebut datang karena banyak perusahaan yang mulai menggunakan atau bereksperimen dengan drone. Tren ini menghasilkan minat yang tinggi dalam operasi drone, seperti pendidikan, pelatihan, dan kursus drone komersial. Karena tingginya permintaan, FAA mengeluarkan 1000 izin drone pada tahun 2015. Tingkat pemberian izin meningkat lebih lanjut menjadi 3.100 pada tahun kalender 2016, dan terus tumbuh hingga saat ini.

sumber:

https://www.fulldronesolutions.com/sejarah-drone-seiring-perkembangan-teknologi-dari-purbakala-hingga-2019/

https://www.jejaktapak.com/2015/04/25/the-history-of-drone/1/ http://ilmupengetahuan.org/drone-indonesia/ https://nias-uas.com/evolution-commercial-drone-technology/ https://www.dronethusiast.com/history-of-drones/

Leave a Reply